Monday, 1 June 2009

John Hicks

1. Profil

John Hicks

· Nama : John Hicks

· Tempat Tanggal Lahir : Warwick , Inggris 1904-1989

· Kehidupan pribadi tokoh :

§ Hicks lahir dari keluarga kelas menengah, ayahnya seorang wartawan dan editor.

§ Hicks mendapatkan pendidikan sekolah menengah yang baik di sekolah swasta di Inggris, dan mendapat beasiswa ke Balliol College, Oxford. Hicks mulai belajar matematika di Oxford, tapi segera pindah dan berkonsentrasi pada ekonomi.

§ Hicks sebagai ilmuan menjadi sangat produktif dengan sejumlah karya ilmiah di berbagai bidang permasalahan, justru setelah ia melewati usia 60 tahun padahal dalam dunia ilmu pengetahuan hal itu lazim diangap tahap usia yang sudah lanjut.

§ Dia mendapat gelar sarjana filsafat, politik dan ekonomi pada tahun 1926.

§ Setelah lulus, Hick mengajar di sekolah ekonomi London, Universitas Cambrige dan mengajar sebentar di Afrika Selatan. Dia tidak menyukai Cambrige, tidak suka keadaan fisiknya dan juga keadaan intelektualnya (karena adanya kecenderungan saling bertengkar), tapi dia mendapatkan sekolah ekonomi London sebagai tempat yang nyaman untuk bekerja.

§ Hugh Dalton dari sekolah London meminta Hick membaca manual karya Pareto, suatu kejadian yang mimiliki arti yang sangat penting dalam hidupnya. Ketika dia sampai pada apendiks matematika Hick sadar bahwa Pareto belummenyelesaikan pekerjaannya membuat analisis ekonomi lebih jelas dan lebih tepat dengan menerjemaahkannya kedalam matematika. Saat itu Hick memeutuskan untuk mencurahkan karirnya untuk melengkapi apa yang telah dimulai oleh Pareto (Klamer 1989, hlm 169).

§ Tahun 1938 Hick ditunjuk menjadi Guru Besar di Universitas Manchester.

§ Delapan tahun kemudia dia kembali ke Oxford dimana dia mengajar sampai pension sampai tahun 1965.

§ Hick dianugerahi gelar bagsawan dan karena itu ia menjadi Sir John Hick tahun 1964.

§ Tahun 1972 dia mendapat hadiah Nobel bidang ekonomi bersama dengan Kenneth Arrow.

§ Hick memberikan kontribusi penting pada ekonomi makro dan ekonomi mikro, sebuah prestasi yang langka di abad ke 20 karena kedua bidang ini masih terpisah dan berbeda. Sebagai ahli ekonomi makro, Hick terkenal karena memformalkan teori makro ekonomi Keynes. Dalam salah satu makalah yang terkenal mengenai ekonomi, Hick (1937) meringkaskan General Theory karya Keynes menjadi serangkaian dua kurva.

2. Karya ilmiah John Hick

§ The Theory of Wages, London, Macmillan, 1932.

‘A Reconscideration of The Theory of Value, “Ecomonica,1 (Februari dan Mei 1934), hlm. 52-76, 196-219, dengan R. D. G. Allen.

‘A Suggestion for Simplifying the Theory of Money, “Ecomonica, 2 (Februari 1935), hlm. 1-19. Dicetak ulang dalam Hick (1967).

‘Mr. Keynes and the ‘Classics’ : A Suggested Interpretation, “Economertica, 5 (April 1937), hlm. 147-159. Dicetak ulang dalam Hick (1967).

§ Value and Capital : An Inquiry Into Some Fundamental Principles of Economic Theory, Oxford. Clarendon Press, 1939.

§ Capital and Growth, Oxford, Clarendon Press, 1965.

§ Critical Essays in Monetary Theory, Oxford. Oxford University Press, 1967.

§ Collected Essays on Economic Theory, 3 vols, Oxford, Basil Blackwell, 1981-1983

3. Pokok-pokok pemikiran

· Pokok pemikiran Hick mengenai kurva IS-LM

Hick memberikan kontribusi penting pada ekonomi makro dan ekonomi mikro, sebuah prestasi yang langka di abad ke 20 karena kedua bidang ini masih terpisah dan berbeda. Sebagai ahli ekonomi makro, Hick terkenal karena memformalkan teori makro ekonomi Keynes. Dalam salah satu makalah yang terkenal mengenai ekonomi, Hick (1937) meringkaskan General Theory karya Keynes menjadi serangkaian dua kurva.




LM

IS

Output

Gambar 1 IS-LM diagram

Teori Keynesian standar tidak pernah menjelaskan hubungan antara pasar barang dan pasar uang. Dalam pasar barang, perusahan membuat barang dan menjualnya kekonsumen, pemerintah, perusahaan lain dan negara lain. Keseimbangan dalam pasarbarang mensyaratkan penawaran barang yang dibawa ke pasar sama dengan permintaan atas barang itu. Dalam pasar uang, orang dan perusahaan menginginkan suatu persediaan uang yang pasti yaitu yang ditetapkan oleh bank sentral nasional. Keseimbangan di pasar uang mensyaratkan permintaan uang sama dengan penawarannya.

Namun kedua pasar ini ternyata lebih berhubungan erat satu sama lain ketimbang saling independen. Jika penawaran uang dinaikan, hal ini akan menurunkan suku bunga dipasar uang. Tetapi dengan rendahnya suku bunga, investasi akan naik dan total permintaan barang dan jasa akan naik di pasar barang. Tentu saja, dengan lebih banyaknya barang dan jasa diproduksi, orang akan butuh lebih banyak uang sehingga mereka dapat membeli barang lebih banyak. Tapi banyaknya permintaan uang akan mendorong suku bunga, mengurangi investasi dan output dan akhirnya mengurangi permintaan uang.

Interaksi antara pasar barang dan pasar uang menurut perkiraan akan bergerak maju mundur selamanya sehingga tidak pernah ada hasil final dan stabil. Tetapi model IS-LM memperlihatkan bahwa pasar barang dan pasar uang dapat mencapai keseimbangan secara bersamaan.

Kurva IS pada gambar di atas merepresentasikan posisi keseimbangan dalam pasar barang. IS menyatakan bahwa dalam pasar barang, investasi, (I) sama dengan tabungan (S). Garis IS yang miring kebawah menunjukkan bahwa saat bunga turun, output ekonomi pasti naik untuk menjaga agar pasar barang dalam posisi equilibrium. Hal ini disebabkan turunnya suku bunga akan menaikkan investasi pengusaha, tapi hal ini juga akan mengurangi tabungan. Untuk menaikkan tabungan dan mendorong tabungan sama dengan investasi, perekonomian harus memproduksi lebih banyak barang, pekerjaan dan penghasilan.

Garis LM menunjukkan posisi equilibrium yang mungkin terjadi dalam pasar uang. LM menyatakan bahwa di pasar uang permintaan uang (L) harus sama dengan penawaran uang (M). Gambar 1 menunjukkan jika suku bunga naik maka perekonomian perlu dikembangkan apabila pasar uang ingin dipertahankan dalam posisi keseimbangan. Hal ini dikarenakan tingginya suku bunga akan mengurangi permintaan uang, karena dengan memegang uang orang kehilangan bunga yang bisa mereka dapatkan dengan memegamg asset pemberi bunga. Namun jika ekonomi tumbuh orang ingin memegang orang akan memegang lebih banyak uang karena mereka akan membeli lebih banyak barang. Dengan bertambahnya barang yang diproduksi permintaan uang akan naik dan akhirnya akan sama dengan penawaran uang.

Keseimbangan yang simultan dicapai pada titik pertemuan antara garis IS dan LM .karena pasar barang berada pada titik –titik pada kurva IS dan pasar uang pada garis LM, seluruh perekonomian pasti bergerak pada satu titik tempat dimana dua garis bertemu.

Hick selanjutnya menunjukkan bagaimana diantara pengikut teori Keynesian dan ahli ekonom klasik timbul dari perbadaan asumsi tentang kedua garis itu. Jika garis LM lebih datar, kebijakan fiscal (suatu pergeseran pada garis IS) akan diperlukan untuk memperluas lapangan kerja. Dan kini kita berada di dunia yang digambarkan oleh ahli ekonomi Keynesian. Di pihak lain, jika garis IS datar, kebijakan moneter (pergerakan garis LM) akan diperlukan untuk meningkatkan output dan lapangan kerja, sehingga kini kita berada di dalam dunia yang digambarkan oleh ekonomi klasik.

· Pokok pemikiran Hick mengenai Value and Capital

Kontribusi kedua ekonomi makro dari Hick berhubungan dengan struktur suku bunga. Para ahli ekonomi biasanya bicara tentang tingkat `suku bunga` seakan–akan hanya ada satu suku bunga dalam perekonomian. Tetapi sebagaimana diketahui semua orang, ada banyak suku bunga yang muncul pada masa-masa tertentu. Suku bunga kartu kredit lebih tinggi dari suku bunga tetap dalam pegadaian dan suku bunga pegadaian yang tetap lebih tinggi daripada pegadaian yang variable. Teori suku bunga mencoba menjelaskan hubungan diantara perbedaan suku bunga ini.

Para ahli ekonomi mempunyai dua cara untuk memahami susunan suku bunga yang luas. Pertama memfokuskan diri pada resiko peminjaman uang dan yang kedua pada lamanya waktu untuk uang yang dipinjamkan. Semaki besar resiko pemberi pinjaman semakin tinggi suku bunganya. Tingginya suku bunga diperlukan untuk kompensasi pemberi pinjaman dari besarnya kemungkinan pinjaman tidak dikembalikan.

Kurva hasil dari grafik suku bunga pinjaman dalam jangka waktu berbeda. Pinjaman ini mengambil bentuk orang dan perusahaan yang membayar hutang pemerintah (atau perusahaan). Sebuah kurva dapat menunjukkan pinjaman 3 bulanan pada pemerintah Amrika Serikatakan membayar bunga 4,4%, 2 tahun membayar 5,5%, 10 tahun mambayar 7 %, dan 30 tahun mambayar 8% (gambar 2)

Time to maturity

Gambar 2 Kurva Hasil

Satu pertanyaan yang muncul berhubungan dengan kurva ini adalah apakah ada hubungan diantara suku bunga untuk asset dengan tingkat jatuh tempo yang berbeda, katakanlah obligasi pemerintah berjangka 6 bulan dan satu tahun. Hicks (1939, Bab, 11-13) menjawab dengan “ya” dan mengembangkan hipotesa ekspektasi untuk menjelaskan hubungan antar asset dengan jangka jatuh tempo yang berbeda.

Hicks memberi alasan jika obligasi 6 bulan dibayar 5% sekarang dan obligasisetahu dibayar 5,5 % sekarang, investor pasti memperkirakan enam bulan dari sekarang suku bunga pada obligasi akan menjadi 6%. Dengan begitu investor mendapat 5,5%. Mereka dapat memperoleh 5,5% selama setahun dengan membeli obligasi berjangka 1 tahun saat sekarang, alternatifnya, mereka dapat memperoleh 5 % untuk enam bulan pertama dari tahun tersebut dan 6% untuk enam bulan kedua pada tahun yang sama. Rata-rata ini sama dengan 5,5% yang didapat dari obligasi satu tahun. Secara umum hipotesa ekspektasi menyatakan bahwa pengembalian pada asset dari jangka jatuh tempo yang lebih panjang akan sama dengan tingkat pengembalian terakhir pada asset jangka pendek saat sekarang dan pengembalian yang diharapkan pada asset jangka pendek di masa akan datang.

Hicks selanjutnya menjelaskan mengapa hipotesa ini pasti berlaku. Penjelasan ini intinya berdasarkan pada proses arbitrase. Jika obligasi satu tahun mendapat bunga 5,5% sedangkan obligasi 6 bulan mendapat 5% dan diperkirakan mendapat 5,5% pada 6 bulan kedepan, maka tidak aka nada yang mau memegang obligasi enan bulan, dan tak ada yang mau membelinya selama satu tahun periode, dua obligasi 6 bulan diperkirakan hanya memdapat 5,25%. Jadi orang akan lebih memilih obligasi 1 tahun dengan pembayaran 5,5%, karena itu mereka akan menjual obligasi 6 bulan dan membeli obligasi 1 tahun. Karena harga obligasi berhubungan secara terbalik dengan suku bunga, maka suku bunga obligasi 6 bulan akan naik dan suku bunga obligasi 1 tahun akan turun. Proses ini berlanjut sampai kondisi keseimbangan yang diidentifikasi dengan hipotesa ekspektasi akhirnya trpai, suku bunga pada obligasi satu tahun akan sama dengan rata-rata oblogasi 6 bulan dan tingkat yang diharapkan pada oligasi 6 bulan untuk setengah tahun kedepan.

· Pokok pemikiran Hick mengenai Kurva Indefferent

Walaupun Hicks memberi banyak kontribusi sebagai ahli ekonomi makro tetapi yang membuatnya pertama kali terkenal adalah sumbangannya pada ekonomi Mikro. Meskipun Edgerworth yang membuat diagram kurva indifferent untuk pertama kalinya, namun yang memasukan analisis kurva indifferent dalam teori ekonomi mikro standar adalah Hicks (1934). Dia menunjukkan bagaimana kurva indifferent dapat digunakan membuat kurva permintaan yang miring ke bawah bagi barang apapun. Kemudian ia menggunakan kurva ini untuk memisahkan efek pendapatan dari perubahan harga dengan efek substitusi dari perubahan harga.

Kunci analisis ini adalah pengenalan garis anggaran. Garis ini merepresentasikan berapa banyak tiap-tiap barang dapat dibeli seorang konsumen berdasarkan penghasilan mereka sekarang dan harga barang yang sekarang. Misalnya dengan pendapatan $ 10 harga dan roti kering dan bir masing-masing seharga $1, seorang konsumen dapat membeli keduanya dengan kombinasi yang jumlahnya 10. Hal ini terlihat pada gambar dibawah dengan lereng yan miring secara negative.

A

Gambar 3 Kurva Indifferen dan Batasan Anggaran

Pada satu titik ekstrim, konsumen membeli10 kue kering dan sama sekali tidak membeli bir. Pada titik ekstrem lainnya konsumen dapat mebeli 10 kaleng bir tanpa membeli kue kering. Diantara titik-titik ekstrem ini banyak kemungkinan kombinasi. Semua kemungkinan ini ditunjukkan oleh garis anggaran. Kemudian Hick menambahkan kurva indifferen (lihat juga EDGEWORTH) pada diagram ini untuk menjelaskan tingkah laku konsumen. Konsumen akan memilih kombinasi kue kering dan bir yang memberikan kepuasan tertinggi, atau titik yang tertinggi pada diagram (titik A).

Hick kemudian melihat pada efek perubahan harga. Anggap saja harga bir naik menjadi $2. Karena harga bir relative lebih mahal, orang akan lebih banyak membeli kue kering dan mengurangi pembelian bir. Inilah efek substitusi, dimana naiknya harga suatu barang akan mengurangi permintaannya dan menaikkan permintaan barang lain (semua barang yang bukan barang komplementer) tapi ada juga efek pendapatan. Ketika harga bir lebih mahal, daya beli dari pendapatan konsumen menurun untuk semua barang. Pengeluaran untuk bir dan kue kering akan jatuh karena efek penghasilan. Dua efek ini bersama-sama mengubah pengeluaran dari 5 bir dan 5 kue kering menjadi 1,5 bir dan 7 kue kering. Efek ini ditunjukan dengan rotasi garis anggaran. Dengan rotasi ini, C adalah titik di mana konsumen mendapatkan kepuasan tertinggi.

Kemudian Hicks menggambarkan sebuah cara sederhana untuk memisahkan efek pendapatan dan substitusi. Kemiringan garis anggaran menunjukan harga relatif dari kedua barang. Jika ada efek substitusi, tetapi tidak ada efek penghasilan, kita seharusnya berada pada kurva indifferen asli kita tetapi dengan memilih kombinasi berbeda dari kue kering dan bir berdasarkan harga baru bir sebesar $2 atau garis anggaran baru. Hicks menyatakan bahwa kita menunjukan efek penghasilan dengan mengambil garis anggaran yang lama dan menariknya sampai menyentuh kutva indifferen asli. Ini diperlihatkan sebagai garis putus-putus pada gamba 4. Pada titik B harga relatif kue kering dan bir adalah sama. Jadai hal ini menujukan bahwa perubahan kebiasaan belanja konsumen pasti terpengaruh oleh efek pengahasilan saja.




Karena efek penghasilan dan efek substitusi mengurangi konsumsi bir, maka saat harg abir naik orang tidak banyak membeli bir. Karena itu kurva permintaan bir pasti akan miring ke bawah—ketika harga bir naik jumlah konsumen turun dan sebaliknya jika harga bir turun jumlah konsumen naik.

· Pokok pemikiran Hick mengenai Elastisitas Substitusi

Terakhir, Hicks (1932) bertanggung jawab dalam memperkenalkan gagasan elastisitas substitusi, suatu perluasan natural dari gagasan elastisitas Marshall. Marshall menerapkan gagasan elastisitas pada permintaan konsumen dan penawaran produsen, dan mempelajari berapa banyak lagi konsumen akan membeli dan berapa banyak lagi produsen akan menjual dengan adanya beberapa perubahandalam harga. Hicks mengambil gagasan elastisitas ini dan menerapkannya untuk keputusan yang harus dibuat perusahaan mengenai produksi.

Dari sudut pandang perusahaan, barang dapat diproduksi dengan beberapa cara yang berbeda, masing-masing menggunakan kombinasi tenaga kerja dan modal yang berbeda. Proses produksi yang lebih menekankan tenaga kerja yang intensif akan mengurangi penggunaan modal dan meningkatkan penggunaan tenaga kerja, dan apabila lebih pada modal yang intensif akan menggunakan sedikit tenaga kerja dan lebih banyak modal. Secara umum, perusahaan menghadapi masalah ketidaksesuaian dalam produksi—setiap ada pekerja tambahan yang digunakan akan mengurangi penggunaan mesin, dan setiap ada tambahan penggunaan mesin produksi akan mengurangi tenaga kerja. Elastisitas substitusi mengukur berapa banyak mesin dapat dikurangi dengan penambahan 1 tenaga kerja untuk memproduksi barang, atau alternatifnya, berapa banyak tenaga kerja yang dapat dikurangi dengan membeli dan menggunakan 1 mesin.

Hicks menunjukan bahwa pekerja tidak perlu menentang perubahan teknis yang menghemat tenaga kerja karena perubahan ini akan menikan upah. Upah akan naik jika elastisitas substitusi antara tenaga kerja dan modal adalah besar, dan akan mudah mengganti modal dengan tenaga kerja. Dengan semakin banuak modal, pekerja akan lebih produktif dan karena itu juga akan dibayar lebih.

Hicks disebut “ahli ekonominya para ahli ekonomi” (Hamouda 1993). Dalam tulisannya yang secara khusus ditunjukan untuk rekan seprofesinya, dia mengembangkan sejumlah alat dan diagram yang mendorong para ahli ekonomi menggambarkan prinsip analisis ekonomi secara lebih jelas dan ringkas. Hicks menunjukkan bagaimana mengkombinasikan analisis pasar uang dengan analisis pasar barang, bagaiman memahami hubungan antara suku bunga dari tingkat kedewasaan yang berbeda, dan bagaimana mengkombinasikan teori kepuasan dengan teori permintaan. Karena kemajuan-kemajuan yang dibuatnya dan karena kontribusinya yang penting untuk bermacam-macam bidang, maka Hicks harus dianggap sebagai salah seorang dari enam oarang ahli ekonomi terpenting di abad ke-20.

1. Profil

Eugen Slutsky

· Nama : Eugen Slutsky (a.k.a. Eugene Slutsky and Yevgeni Slutsky)

· Tempat Tanggal Lahir : …..1880-1948

· Kehidupan pribadi tokoh :

§ Eugen Slutsky (a.k.a. Eugene Slutsky and Yevgeni Slutsky) ingin menjadi seorang ahli matematika, akan tetapi dia keluar dari Kiev Universitas dan bergabung dalam pergerakan-pergerakan mahasiswa, setelah beberapa pengembaraan dalam dunia tehnik dan Eropa.

§ Dia kembali ke Kiev dan akhirnya mendapatkan gelar doktornya dalam ilmu hukum dan bertugas untuk mengajar di institute perdagangan Kiev pada tahun 1911 dan Slutsky mempunyai pengalaman yang baik dalam setiap bidang.

§ Adalah tugas sekolah Lausanne dalam bidang ekonomi yang menariknya dan menyelesaikan esay ilmu ekonomi pertamanya pada tahun 1915 – diterbitkan di Italia (pada waktu, benteng pertahanan ekonomi dari Walrasian yang terakhir).

2. Karya-karya utama dari Eugene Slutsky

1. Pada ukuran dari kebaikan yang layak dari garis kemunduran dan pada metode terbaik mencocokannya ke dalam data,1914,jurnal dari masyarakat royal yang statis

2. Sulla teoria del bilancio del consummatore, 1915, Giornale degli Economisti

3. Über stochastische Asymptoten und Grenzwerte, 1925, Matematischen Annalen

4. Penyajian terakhir dari penyebab-penyebab secara acak sebagai sumber perputaran dari proses-proses, 1927 (dalam Econometrika, 1937)

5. Sur un criterium de la convergence stochastique des ensembles de valeurs eventuelles, 1929, Comptes Rendu des seances de l'Academie des Sciences

6. Quelques Propositions sur les Limities Stochastiques Eventuelles, 1929, Compte Rendu des seances de l'Academie des Sciences

7. Table-tabel untuk penghitungan fungsi gama yang tidak lengkap dan kemungkinan distribusi chi-square, 1950

8. Pilihan karya-karya dari Eugen Slutsky, 1960

3. Pokok-pokok pemikiran Eugen Slutsky

§ Pada esaynya dia mengemukakan “pembusukan Slutsky” dari fungsi permintaan menjadi efek penggantian dan pendapatan. Karyanya dihiraukan dan tidak lama kemudian, ketika prinsip yang sama dikeluarkan kembali secara bebas oleh John Hicks dan R.G.D Allen pada tahun 1934, yang pada akhirnya dia mendapatpan pengakuan.

§ Kontribusi terkemukanya terhadap ilmu ekonomi keluar pada tahun 1927, ketika dia memperlihatkan bahwa sebuah serentetan goncangan dapat dievaluasi untuk memberikan perputaran kekayaan yang tetap. Esay ini, yang disejajarkan bahawa Frisch adalah awal dari perputaran bisnis yang bergantung pada goncangan yang lebih dulu dari Teori Klasik Baru yang ada sekarang. SLUTSKY-YULE THEOREM yang terkenal (bahwa pergerakan rata-rata dari sebuah serentetan acak mungkin akan menghasilkan gerakan yang tidak tentu ketika tidak ada ketidakpastian muncul dalam data yang asli) juga tertera dalam esaynya.

§ Sisa karyanya, kebanyakan darinya disempurnakan setelah dia pindah ke Moskow pada tahun1920, ada dalam kemungkinan teori. Slutsky's Theorem yang terkenal yang memperlihatkan bahwa jika sebuah statistik bertemu maka hampir pasti atau kemungkinannya akan stabil kemudian secara terus-menerus fungsi dari statistik tersebut juga bertemu dalam cara yang sama terhadap beberapa fungsi dari kestabilan tersebut – sebuah dalil dengan perangkatnya yang semuanya ada dalam ilmu statistik dan ilmu ekonomi – tertera pada esaynya pada tahun 1925. Pembatasan teori-teori lainnya dibuat pada tahun 1928 dan 1929.

§ Kelemahan / keritikan terhadap teori-teori tokoh tersebut

Setelah membaca sumber-sumber yang kami peroleh, teori-teori yang dikemukakan oleh John Hick dan Eugen Slutsky ternyata mendapatkan keritikan dan mempunyai kelemahan. Tetapi mereka juga mengkritik atau menyempurnahakan teori-teori dari para tokoh lainnya. Seperti Hick telah mengkaji ulang kerangka dasar pemikiran Alfred Marshall dengan penyorotan yang kritis. Dengan mengadakan perubahan-perubahan penting terhadap seperangkat pemikiran dalam teori Marshall mengenai perilaku konsumen (consumers behavior). Hick mengembangkan gagasannya yang lebih mantap dalam hal teori tentang nilai subyektif maupun teori tentang ekuilibrium umum (theory of subjective value and theory of general equilibrium).

Dalam wujud rumusan yang baru, Hick menunjuk kepada kelemahan-kelemahan dalam teori nilai dalam versi lama (Marshall) yang dianggapnya terlalu berat sebelah karena sangant tergantung dari konsep pengertian tentang faedah (utility) dan dari kecenderungan terus menurunnya faedah itu sebagai mana dahulu diungkapkan oleh Herman Gossen. Hick dalam mengenbangkan teorinya mengandalkan pendekatan matematik dari Pareto, dengan melengkapi metodologi Pareto mengenai kurva indiferensi (Pareto’s indifference curve) dan dengan membentangkan pendapatnya yang kemudia dikenal sebaga Hicksian Subtitution Effect. Dampak substitusi yang dimaksud dijelaskan dengan melakukan variasi pada pendapatan dikala terjadi perubahan pada harga antara berbagai macam barang dan jasa. Dengan demikian, diperoleh suatu indeks tetntang faedah yang bersifat konstan (dan tidak apriori cenderung untuk menurun), sedangkan perihal ekiulibrium dalam proses tukar menukar (equilibrium of exchange) pandangan Hick lebih cenderung pada landasan pemikiran Walras. Dengan demikian, Hick (setelah Marshall dahulu) ikut menyebarluaskan gagasan Walras tentang ekiulibium umum di pasaran. Sementara itu, Hick juga mengganggap bahwa pola pendekatan Walras masih bersifat agak steril (a certain sterility).

Adapun yang dimaksud oleh Hick dalam hal ini ailah sifat statistika dalam Model matematik yang dibeberkan oleh Walras. Sehubungan dengan itu Hick ikut memperhitungkan factor perubahan dalam system ekuilibrium umum. Kuncinya ialah konsep pengertian mengenai temporary equilibrium (ekuilibrium yang bersifat sementara, temporer).

Dengan ekuilibrium temporary itu dimaksud keadaan ekuilibrium yang kini sedang berlangsung di pasaran, tetapi ekulibrium tersebut secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh perkembangan pasar di masa depan. Pengaruh tidak langsung dari masa depan itu berkaitan dengan factor expectations (ekspektasi, dugaan pemikiran, pengharapan) pada pihak pelaku di pasar mengenai perkembangan masa depan. Factor ekspektasi yang dimaksud mempengaruhi sikap kelakuan pada saat ini oleh para pelaku di pasaran. Dari ulasan tersebut dikembangkan lebih lanjut konsep pengertian tentang elastisitas pada espektasi (elasticity of expectation).

Dalam gagasan Hick yang pokoknya diungkapkan di atas tadi, sekaligus dimasukan unsure dinamika ekonomi dalampola pendekatannya mengenai ekuilibrium umum, sedangkan factor ekspektasi kelak ternyata menganbil peranan penting dalam perkembangan teori ekonomi makro di dasawarsa 70 dan 80.

Intisari dari pandangan Hick mengenai teori nilai dan ekuilibrium umum, kini harus dikemukakan adanya kelemahan pokok dalam kerengaka dasar pemikirannya, meskipun pemikiran-pemikiran Hick itu disusun dan dikembangkan secara brilian dan memang mengandung arti yang besar bagi perkembangan teori.

Kelemahan pokok yang dimaksud ialah bahwa Hick ternyata memandang remeh peranan unsur monopoli dalam stuktur pasar. Ia tetap derpangkal pada dalil mengenai berlakunya persaingan sempurna dalam pasar barang dan jasa. Dalam pandanga Hick, factor monopoli tidak besar artinya dalam transaksi-transaksi pasar. Oleh sebab itu, pendapat tentang persaingan sempurna menurut Hick tidak banyak menyimpang dari realitas. Akan tetapi jika sebaliknya unsur monopoli menjalankan peranan yang besar, maka hal itu jelas tidak selaras dengan keadaan ekuilibrium. Dengan demikian, kestabilan pada ekuilibrium yang dalam konstruksi pemikiran Hick disusun dengan begitu rapi, justru akan menjadi tanda tanya yang besar.

Padahal di jaman Hick sendiri di tahun 30an seiring dengan upayanya dibidang teori tetapi dalam alur pikiran yang berbeda, semakin dipersoalkan dan diragukan tentang arti dan manfaat suatu kerangka analisis yang tatap berpangkal pada berlakunya persaingan sempurna. Pengalaman dan pengamatan empiris dalam perkembangan dunia nyata justru member gambaran yang berlainan sekali. Persaingan yang sempurna dalam suatu struktur pasar yang sempurna pula bukanlah hal yang lazim ditemukan dalam realitas kehidupan sehari-hari.

JOAN VIOLET ROBINSON

JOAN VIOLET ROBINSON

1. Profil Tokoh

· Nama : Joan Violet Robinson

· Tempat Tanggal Lahir : Surrey ( Inggris), 31 Oktober 1903

· Wafat : 5 Agustus 1983

· Nationality: Great Britanian

· Kontribusi: Teori Pertumbuhan Cambridge

· Kehidupan Pribadi Joan Robinson:

Robinson terlahir dengan nama Joan Maurice di Surrey, inggris 1903. Keluarganya adalah keluarga golongan menengah. Ayahnya seorang jenderal, penulis, dan akhir hidupnya menjadi pemimpin sebuah akademi yang selanjutnya menjadi cikal bakal universitas London. Ibunya seorang putri dari seorang profesor di universitas Cambridge. Robinson sekolah di St. Pauls, sebuah sekolah khusus purti, dimana ia belajar sejarah. Kemudian Robinson meneruskan pendidikannya ke Girton College. Kemudian ia meneruskannya lagi ke Cambridge untuk belajar ekonomi. Beberapa tahun ia tinggal di India bersama suaminya (ahli ekonomi Austin Robinson), Robinson menghabiskan waktunya selama setengah abad sesudah kelulusannya pada tahun 1925 untuk mengajar dan sebagai dosen di universitas Cambridge sampai tahun 1984. Pada Tahun 1930 Robinson menjadi aktivis di Cambridge Circus sebuah kelompok kecil para ahli ekonomi yang membantu Keynes.

Pada awalnya Joan Robinson adalah pendukung ekonomi Klasik, kemudian dia mengubah pikirannya setelah bertemu dengan John Maynard Keynes. Sebagai anggota dari ‘Cambridge School’ Robinson kemudian memberi dukungan dan pengunjukan teori umum Keynes, dalam tulisan pertamanya pada tahun 1936 sampai tahun 1937 ia menulis tentang keterlibatan-keterlibatan tenaga kerja yang mencoba menjelaskan dinamika ketenaga kerjaan ditengah-tengah depresi besar pada tahun tersebut.

Pada tahun 1933 dia menulis bukunya yang berjudul Economics of Imperfect Competition yang memperkenalkan istilah “Monopsoni” yang menjelaskan tentang seorang pembeli dan seorang penjual monopoli.

Kemudian pada tahun 1949, Joan Robinson diundang oleh Ragnar Frisch untuk menjadi wakil ketua dari Econometric Society. Pada tahun 1956 Joan Robinson menerbitkan karangan besar berjudul The Accumulation of Capital yang memperluas ekonomi Keynesian dalam jangka waktu yang sangat panjang. Enam (6) tahun kemudian ia menerbitkan buku lain tentang teori pertumbuhan, yang menjelaskan tentang konsep-konsep dari “usia keemasan” atau alur-alur pertumbuhan. Setelah itu ia mengembangkan teori pertumbuhan Cambridge dengan Nicholas Kaldor sampai tahun 1960. Ia juga menjadi salah satu peserta dalam kontroversi Cambridge bersama Piero Sraffa.

Di penghujung hidupnya dia belajar dan berkonsentrasi pada permasalahan metodologis dalam ekonomi dan mencoba menyempurnakan dari Teori Umum Keynes. Pada tahun 1962 sampai 1980 Robinson menulis banyak buku yang mencoba membawa beberapa teori ekonomi kepada masyarakat umum. Robinson mengusulkan untuk mengembangkan satu alternatif pengembangan rohani dari ekonomi klasik.

Pada tahun 1974 Robinson terpilih sebagai presiden Asosiasi Ekonomi Amerika. Kemudian pada tahun 1983 ia menderita stroke dan meninggal dalam usia 79 enam bulan kemudian di rumah sakit Cambridge.

2. Karya Ilmiah Joan Robinson

- Economics of Imperfect Competition, London, Macmillan, 1933

- Introduction to the Theory of Employment, London, Macmillan, 1937a.

- Essay in the Theory of Employment, London, Macmillan, 1937b.

- An Essay on Marxian Economics, London, Macmillan, 1942.

- “The Production Function and the Theory of Capital,” Review of Economics Studies, 21, 2 (1953-1954). Di cetak ulang dalam Robinson (1980), Vol. 2, hlm. 114-131.

- The Accumulation of Capital, London, Macmillan, 1956.

- Economics Heresies: Some Old-Fashioned Question in Economic Theory, New York, Basic Books, 1971.

- An Introduction to Modern economics, New York, McGraw Hill, 1973, dengan John Eatwell.

- Collected Economic Pappers, 5vols, Cambridge, Massachuttes, MIT Press, 1980.

3. Pokok-pokok Pikiran (teori) Joan Robinson

Ø Teori Persaingan Tidak Sempurna

Struktur pasar persaingan tidak sempurna didasarkan pemikiran Pierro Sraffa dan Joan Robinson serta Chamberlin pada tahun 1930-an. Sraffa menulis buku The law of Return Under Competitive Condition, sedangkan Joan Robinson menulis The Theory of Monopolistic Competition pada tahun 1933.

Asumsi-asumsi yang mendasari pasar persaingan tidak sempurna, yaitu penetapan pajak secara sepihak, sumbangan lainnya dari Robinson adalah mengenai eksploitasi tenaga kerja. Robinson dipengaruhi oleh aliran sosial dan berpendapat setiap pekerja harus dibayar sesuai dengan produktivitas marjinalnya.

Keseimbangan dalam pasar persaingan tidak sempurna dapat terjadi pada beberapa titik, yaitu pada saat ATC menurun, minimum atau menarik. Namun, keadaan yang lazim terjadi adalah pada saat ATC menurun dan hal ini disebabkan, antara lain oleh diferensiasi produk, under capacity, iklan dan kelembagaan.

Dalam menjelaskan pembuatan keputusan perusahaan Robinson menggunakan konsep pendapatan marjinal (marginal revenue), yakni tambahan pengembalian perusahaan yang diperoleh ketika perusahaan memproduksi dan menjual satu barang lagi. Bagi perusahaan kompetitif, pendapatan marjinal akan selalu merupakan harga yang sama, karena perusahaan dapat selalu menjual barangnya lebih banyak tanpa harus mengobral atau menurunkan harga. Tapi perusahaan dalam pasar persaingan sempurna akan mengalami kurva pendapatan marjinal yang lerengnya menurun. Untuk dapat menjual lebih banyak, mereka harus mengobral barang. Jika ini terjadi, beberapa konsumen akan membayar barang dibawah harga. Perusahaan akan kehilangan pengembalian ini. Dengan mempertimbangkan baik itu harga yang rendah dan penjualan yang tinggi, perusahaan mungkin akan memotong harga untuk menjual lebih banyak namun tidak mendapat pengembalian (yaitu pendapatan marjinal dari penjualan akan nol atau negatif). Sebaliknya perusahaan akan mendapat pengembalian lebih jika perusahaan menaikkan harga,d an mengurangi produksi dan penujualan.

Dengan menunjukkan bagaimana naiknya harga dan kurangnya output produksi dapat meningkatkan pendapatan perusahaan, Robinson mampu menjelaskan mengapa persaingan tidak sempurna ditandai dengan produksi yang tidak cukup dan penggunaan sumber daya yang tidak efisien. Karena persaingan tidak sempurna dapat menjelaskan tingginya tingkat pengangguran yang terjadi di Inggris (sedangkan teori persaingan sempurna tidak dapat menjelaskannya) pada tahun 1920-an dan pada masa depresi tahun 1930-an.

Dalam The Economics of Imperfect Competition, ia juga menunjukkan bahwa dalam persaingan tidak sempurna, para pekerja menerima gaji yang kurang dari nilai produksi mereka. Konsekuensinya, produktivitas marjinal tidak dapat bertahan ketika persaingan tidak sempurna eksis. Dengan persaingan tidak sempurna pekerja tereksploitasi oleh pengusaha yang kuat. Untuk mengembalikan kepada keadaan semula, Robinson memperkenalkan gagasan monopsony, suatu kedaan dimana hanya ada satu majikan pada suatu dareh geografis tertentu atau satu majikan bagi pekerja dengan keterampilan tertentu. Dengan hanya satu majikan yang potensial, dan dengan banyaknya pencari kerja, maka orang-orang berada pada keadaan kerugian kompetitif. Mereka terpaksa menerima gaji yang ditawarkan oleh satu majikan saja. Robinson mengakui bahwa dunia ini tidak terdiri dari pasar tenaga kerja monopsonistik. Namun gagasan monopsonistik membantu dalam member perhatian pada penentuan upah sebagai suatu proses tawar-menawar dan pada eksploitasi pekerja karena kurnagnya tawar-menawar terhadap bebrapa perusahaan besar.

Suatu dunia ekonomi yang bercirikan persaingan tidak sempurna juga memunculkan teori baru tentang determinasi harga, salah satunya diisyarakatkan oleh Robinson dan kemudian dikembangkan oleh ahli ekonomi pasca Keynesian. Dalam pasar persaingan, semua perusahaan adalah penentu harga; perusahaan harus menentukan harganya sesuai dengan kemampuan pasar dan apa yang dilakukan perusahaan lain dalam industri tersebut. Namun, dengan persaingan tidak sempurna, harga yang dibuat oleh produsen, yang melakukan mark-up pada biaya utama mereka (upah dasar). Semakin kecil persaingan industri, semakin tinggi kenaikan harga. Dan semakin tinggi kebutuhan perusahaan akan sumber daya internal untuk ekspansi, akan semakin besar mark-upnya.

Dalam karyanya, Joan Robinson tidak menonjolkan permasalahan yang berkaitan dengan diferensiasi produk. Gagasan Robinson dipaparkan dengan banyak menggunakan teknik geometrik. Berdasarkan teknik tersebut ditarik berbagai kesimpulan mengenai realitas dalam dunia ekonomi riil, diantaranya kesimpulan-kesimpulan sekitar masalah ekonomi kesejahteraan (welfare economics). Dalam penelitiannya Joan Robinson menyisipkan normatif dengan sadar atau tidak. Misalnya, dalam pandangannya terhadap masalah monopsoni dipasar, hal itu juga disoroti dari segi moral. Dalam hubungan ini, oleh Joan Robinson ditekankan tidak adanya efisiensi dalam kondisi persaingan yang tidak sempurna. Lagi pula dalam keadaan serupa itu terjadi pemersan terhadap tenaga kerja. Sebab, akan timbul perbedaan antara tingkat upah disatu puhak (yang secara riil diterima oleh tenaga kerja) dan nilai produk marjinal dari tenaga kerja itu dipihak lain. Dalam pandangan Joan Robinson, dikala ada monopoli di pasar barang ataupun monopsoni di pasar tenaga kerja, maka hal itu satu sama lain akan membawa pemerasan (exploitation).

Dalam pasar persaingan tidak sempurna juga Robinson memperkenalkan analisisnya tentang diskriminasi harga. Para ahli ekonomi telah mengetahui bahwa perusahaan monopoli besar menetapkan harga yang berbeda untuk orang yang berbeda, tetapi Robinson orang pertama yang menjelsakan prinsip cara kerja dan konsekuensinya. Robinson menunjukan bahwa diskriminasi harga hanya ada dalam monopoli atau persaingan tidak sempurna. Melalui diskriminasi harga, perusahaan-perusahaan monopili dapat menaikan pendapatan dan laba mereka.

Dalam pemberlakuan diskriminasi harga, perusahaan-perusahaan perlu membagi pasar untuk produknya menjadi dua bagian: konsumen yang ingin dan dapat membayar dengan harga tinggi dan konsumenyang sensitif terhadap harga. Kemudian perusahaan perlu mencari cara untuk menetapkan harga yang lebih tinggi pada kelompok pertama. Salah satu cara adalah dengan menetapkan harga berbeda waktu yang berbeda dalam satu hari. Karena itu, perusahaan telepon, misalnya, akan memberikan harga yang lebih rendah pada malam hari dan akhir minggu. Pelanggan bisnis, yang umunya tidak sensistif terhadap harga, akan membayar pada harga yang tinggi dan individu akan membayar pada tingkat pengurangan biaya pulsa telepon terendah. Kupon diskon juga membantu dalam pembagian pasar dan memungkinkan adanya diskriminasi harga. Mereka yang peduli pada harga akan mengambil kupon dan membeli barang dengan harga yang lebih rendah; jadi mereka tidak akan membayar penuh. Demikian juga, praktik penetapan harga dengan tawar-menawar seperti pada dealer mobil akan mengakibatkan diskriminasi harga. Disini para penawar, karena tidak ingin membeli dengan harga tinggi, dapat membeli mobil dengan harga yang lebih murah dari pada mereka yang tidak mau menawar.

Ø Teori Produktivitas Distribusi Marjinal

Berawal dari permasalahan terhadap analisis permintaan dan penawaran, menurut Robinson, berhubungan dengan modal. Robinson memicu perdebatan yang kemudian dikenal dengan nama “Kontroversi Cambridge” (Cambridge Controversy), dengan krtikinya atas teori distribusi dari kaum marjinalis. Menurut teori ini tingkat laba ditentukan oleh produktivitas marjinal dari modal. Persoalan yang diangkat Robinson adalah bagaimana mengukur modal untuk mencari produk marjinalnya. Pertanyaan yang sederhana dan kurang disadari ini muncul dan menimbulkan debat sengit antara Cambridge Inggris dan Cambridge Massachussets tentang kemungkinan pengukuran modal ketika tidak diketahui beberapa tingkat laba.

Pembentukan kurva permintaan teori produktivitas Distribusi marjinal ini perlu menghubungkan tingkat keuntungan dengan kuantitas modal. Masalahnya adalah modal bukanlah barang yang homogeni (seperti tenga kerja) yang dapat dihitung dan dijumlah. Modal bisa terdiri atas pabrik-pabrik besar dan kecil, bagian perakitan, palu dan obeng, computer dan perangkat lunak. Barang-barang ini tidak memiliki persamaan yang membuat kita bisa mencari “jumlah” modal, Karena itu diperlukan pendekatan yang lain.

Cara tradisional dalam menghitung barang modal adalah menghitung nilainya, atau kemungkinan kemampulabaan dimasa depan. Cara ini dianggap paraktis atau bisa menjelaskan persoalan, tetapi cara ini tiak memuaskan sebagai bagian dari teori yang menjelaskan apa yang menetukan tingkat keuntungan. Seperti yang ditunjukkan Robinson, jika teori ekonomi dianggap bisa menjelaskan tingkat keuntungan, teori ini tidak berasumsi mengetahui kemampulabaan modal untuk mengukur jumlah modal. Prosedur ini melingkar, karena itu teori distribusi produktivitas marjinal harus diabaikan.

Kritik Robinson atas teori ekonomi mikro juga mendukung pendekatan makroekonomi dari Keynes. Jika kita menolak produktivitas marjinal sebagai suatu teori distribusi, maka penawaran tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja tidak menentukan upah dan lapangan kerja. Kita tidak lagi punya alasan kuat untuk percaya kalau pengangguran akan hilang dengan menunggu turunnya upah. Demikian juga, jika gagasan keseimbangan tidak berguna bagi studi ekonomi riil maka tidak ada alasan berasumsi bahwa pasar tenaga kerja akan jelas pada keseimbangan lapangan kerja penuh.

Ø Teori Perdagangan Internasioal

Robinson juga tokoh penting dalam memperluas ekonomi Keynes sampai kebidang dunia internasional. Secara tradisional, para ahli ekonomi menyataka bahwa perubahan nilai tukar atau aliran uang akan memperbaiki setiap ketidakseimbangan yang terjadi. Negara dengan surplus perdangan akan mendapatkan pemasukan uang atau penguatan nilai mata uang. Hal ini akan membuat harga barang mereka menjadi mahal bagi penduduk Negara lain dan akan mengurangi ekspor. Negara yang defisit akan mengalami hal yang sebaliknya, barang mereka akan lebih murah dinegara lain dan banyak mengekspor barang; menurut teori ekonomi standar, perubahan harga akan membawa perdagangan pada keseimbangan.

Berlawanan dengan pandangan konvensional ini, Robinson menyatakan bahwa ada satu mekanisme penyesuian Keynesian. Masalah perdagangan diselesaikan melalui perubahan pendapatan ketimbang melalui perubahan harga relatif. Negara yang mengalami defisit perdagangan gagal menjual barang yang cukup keseluruh dunia. Konsekuensinya produksi turun dan pengangguran meningkat. Akibatnya penduduk Negara ini mengurangi pembelian barang dan jasa dari Negara lain sehingga defisit perdagangannya akan menuju keposisi keseimbangan. Tapi hal ini berdampak pada Negara surplus, yang kini mengalami penurunan permintaan barang yang mereka produksi. Surplus perdagangan mereka berkurang tetapi tingkat pengangguran mereka juga meningkat.

Robinson selanjutnya memperluas teori Keynes dengan meneliti perdagangan internasional dalam konteks yang dinamis atau bagaimana kesimbangan perdagangan berubah sepanjang waktu. Ketimbang menganggap perdagangan internasional sebagai suatu cara terbaik bagi Negara-negara untuk membagi tugas memproduksi barang yang berbeda. Robinson melihat perdagangan luar negeri sebagai bagian strategi pertumbuhan nasional.

Surplus perdagangan, khususnya ketika tercapai dengan spesialisasi dalam industry manufaktur, maka dengan sendirinya akan menaikan tingkat keuntungan domestik yang akan memperbesar investasi dan perkembangan teknologi. Hal ini, pada gilirannya, akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja domestik dan memperbesar pendapatan. Karena itu perdagangan surplus dapat memicu perkembangan jangka panjang dalam produktivitas dan taraf hidup. Sehingga dari surplus perdangan yang dihasilkan akan memacu pertumbuhan ekonomi.

4. Kelemahan / kritikan terhadap teori Joan Robinson

Untuk kritik terhadap teori Robinson tidak ada tokoh yang mengkritik toerinya karena Robinson sendiri lebih banyak melengkapi dan mengkritik teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Seperti tambahannya untuk teori perdagangan internasional kepada makroekonomi post-Keynesian.

Pada dasarnya joan Robinson banyak melengkapi teori-teori yang sudah dikeluarkan oleh pemikir ekonomi lainnya. Akan tetapi, meski banyak kemajuannya, Robinson justru tidak puas dengan Economics of Imperfect Competition sesudah ia selesai menulisnya. Ketidakpuasannya datang dari banyaknya masalah yang ia lihat pada analisis mikroekonomi. Pada tingkat teori, Robinson sadar akan adanya masalah logika dalam anlisis penawaran dan permintaan. Pada tingkat praktik, depresi besar dan karya Keynes membuatnya kehilangan minat pada penetapan harga dan keputusan output perusahaan.

Salah satu masalah dalam analisis penawaran dan permintaan menurut Robinson adalah bahwa analisis ini mengakibatkan waktu dan ekspektasi; sebaliknya gagasan tanpa waktu yang disebut “keseimbangan” justru berada ditengah-tengah analisis. Robinson berpendapat bahwa gagasan stabilitas yang melekat dalam analisis keseimbangan tidak cocok untuk disiplin ilmu seperti ekonomi yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perubahan ekonomi. Berlawanan dengan teori ekonomi standar, konsumen dan bisnis tidak merespon harga-harga yang sekarang yang dapat menggerakkan ekonomi menuju keseimbangan harga. Justru sebaliknya, konsumen dan pengusaha merespon harga saat sekarang berdasarkan pikiran mereka tentang berapa harga dimasa depan. Lagi pula perubahan harga dapat mengubah ekspektasi. Harga yang rendah dapat menimbulkan harpan bahwa harga dimasa depan akan lebih rendah, membuat konsumen kurang berminat membeli beberapa barang sekarang meskipun harganya turun drastis. Dalam keadaan seperti ini tidak ada keseimbangan yang mungkin terjadi; dan analisis permintaan dan penawaran tidak dapat membayangkan apa yang sedang terjadi didunia nyata. Untuk memahami ekonomi riil membutukan orientasi teori baru. Salah satunya adalah memfokuskan diri pada bagaimana harga berubah sepanjang waktu menuju kepada kesimbangan. Dalam karyanya juga, Joan Robinson tidak menonjolkan permasalahan yang berkaitan dengan diferensiasi produk.

DAFTAR PUSTAKA

Pressman, Steven. 2000. Lima Puluh Pemikir Ekonomi Dunia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Skousen, Mark. 2006. Sang Maestro Teori-Teori Ekonomi Modern. Jakarta: Prenada Media.

Djojohadikusumo, Sumitro. 1991. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

http://en.wikipedia.org/wiki/Joan_Robinson

http://www.paecon.net/PAEReview/issue22/Garrido22.htm

http://www.paecon.net/Joan Robinson/issue22/Garrido22.htm